News Update :
Tampilkan postingan dengan label Ibu Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Anak. Tampilkan semua postingan

Mengatasi Si Kecil yang Suka Mengumpat

Penulis : teguh on Sabtu, 22 Desember 2012 | 01.55

Sabtu, 22 Desember 2012

Mengatasi Si Kecil yang Suka Mengumpat
Orangtua merasa senang dan bangga kalau anaknya mahir berbicara dan berani mengungkapkan emosinya. Namun, perasaan positif ini dapat menjadi negatif seketika ketika si kecil merespons sikap dan ucapan Anda dengan bantahan bahkan mengumpat.

Sebaiknya, Anda tak terpancing dengan bantahan anak melalui sikap dan ucapan kasar yang keluar begitu saja dari mulutnya. Misalnya, saat ibu mengajak anak tidur, ia tiba-tiba berkata, "Ih, bawel."

Jane Nelsen, penulis buku Positive Disciplin memaparkan anak yang membalas ucapan orangtua dengan kata-kata atau ungkapan kasar sebenarnya ia sedang mengekspresikan kemarahan, frustasi, ketakutan atau rasa sakit.

"Anda harus mengajarkan anak untuk mengungkapkan emosinya dengan cara yang lebih baik," sarannya.

Jangan terpancing.
Bereaksilah sewajarnya saat anak membalas ucapan Anda dengan cara yang tak sopan. Cara terbaik yang bisa dilakukan orangtua terhadap anaknya adalah dengan mengajarkannya bersikap menghargai orang lain. Ajari anak mengenai bagaimana cara berbicara yang baik. Jangan pernah membalas ucapan kasar anak Anda. Bagaimana pun anak mencontoh dari orang lain di sekitarnya, terutama orangtuanya.

Tak ada kompromi.
Jangan membiarkan si kecil berbicara dengan nada atau kata-kata yang buruk. Jika ia tak sengaja mengucapkan kata kasar saat sedang bermain games bersama Anda misalnya, segera ingatkan dia. Bilang kepadanya, Anda tak mau melanjutkan permainan jika si kecil bicara kasar lagi. Jika anak masih saja bicara buruk, segera hentikan permainan Anda. Tinggalkan si kecil, dan katakan kepadanya bahwa Anda hanya mau bicara padanya kalau ia sudah siap bersikap baik.

Nah, jika hal ini terjadi di depan umum, upayakan untuk tidak mengintimidasinya. Perlahan dan dengan tenang beritahu anak Anda bahwa ucapannya tak baik. Ajak anak ke tempat yang tenang, dan katakan padanya, jika ia mengulangi hal tersebut maka ia harus siap menerima konsekuensinya. Misalnya, tak boleh menonton acara TV favoritnya.

Terapkan aturan.
Pastikan anak Anda memahami apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan, dan pada saat kapan. Berikan si kecil penjelasan, mengapa Anda menerapkan aturan tersebut. Sehingga si kecil dapat memahami aturan yang ada dalam keluarganya. Jelaskan juga padanya, tak semua isi pikiran dapat diungkapkan sesuka hati.

"Penting untuk membuat batasan dan konsisten menjalaninya," kata psikolog klinis, Wade Horn.

Komunikasi.
Tunjukkan perhatian Anda dengan mengatakan kepada si kecil bahwa Anda memahami perasaannya, meski tak menyetujui caranya mengungkapkan emosi.

Bangunlah komunikasi dengan si kecil, ajak ia mengungkapkan alasan di balik kata-kata kasar yang diucapkannya. Ajak si kecil belajar menjelaskan perasaan atau emosinya, bukan dengan mengumpat.

Sebaiknya mulailah percakapan setelah temperamen anak mereda. Libatkan anak untuk mencari tahu bagaimana seharusnya ia bersikap saat merasa emosi dengan sesuatu, bukan dengan mengumpat.

Fokus pada solusi.

Telusuri lebih jauh mengapa si kecil bersikap atau berkata kasar kepada Anda. Ia pasti punya alasan di baliknya. Bisa jadi cara Anda memperlakukannya membuatnya emosi dan menyimpan kemarahan.

Misalnya saat ia sedang mengerjakan tugasnya membersihkan mainannya, Anda selalu bertanya apakah ia sudah menyelesaikan tugasnya, setiap beberapa menit. Adalah tugas orangtua untuk mencari solusi bersama, agar tercipta harmoni dengan sikap saling menghargai. (female.kompas.com)
komentar | | Read More...

Agar Si Kecil Tertarik ke Toko Buku

Agar Si Kecil Tertarik ke Toko Buku
Kalau tidak dikenalkan sejak dini dan tidak dibiasakan, anak prasekolah tak akan pernah tertarik ke toko buku yang sebenarnya dapat membantunya membangun kebiasaan membaca.

Jadi, orangtua memang memegang peranan penting untuk memunculkan kebiasaan ini pada usia prasekolah. Selain orangtua tentunya harus cinta buku, karena anak adalah peniru ulung dari orangtuanya, terutama anak usia prasekolah.

Agar si kecil tertarik ke toko buku, Anda dapat melakukan tiga cara berikut:

1. Agenda rutin.
Orangtua perlu merancang agenda rutin untuk mengajak si prasekolah ke toko buku. Dua minggu atau sebulan sekali, Anda dan si kecil yang menentukannya. Sebagai pertimbangan, toko buku cenderung ramai saat akhir pekan dan anak mungkin merasa tak nyaman. Bila memungkinkan, lebih baik mengajaknya ke toko buku di hari kerja saat toko lebih sepi dan anak lebih leluasa memilih buku.

Jadikan toko buku sebagai tujuan pertama sewaktu anak masih bersemangat dan berenergi. Dengan begitu anak akan merasakan pengalaman menyenangkan di toko buku. Jangan jadikan acara ke toko buku sebagai kegiatan terakhir setelah lelah berbelanja di supermarket atau waktu yang terburu-buru, sehingga anak tak menikmatinya. Bukan tidak mungkin kalau pengalaman pertama tak menyenangkan, selanjutnya anak tidak berminat melakukannya lagi.

2. Bebas memilih buku.
Berikan kebebasan kepada si prasekolah untuk memilih buku. Namun buat kesepakatan dengan anak, apa yang boleh dibeli di toko buku. Ia boleh memilih satu buku cerita dan satu buku aktivitas. Untuk memudahkan, orangtua bisa memberikan pilihan terbatas, seperti menyodorkan tiga judul buku dan meminta anak memilih salah satunya. Bisa juga dengan batasan harga, sekali ke toko buku, ia boleh membelanjakan uang Rp 50.000 misalnya. Orangtua juga harus jeli, buku mana yang sudah pernah dibeli. Jangan sampai si kecil memilih dan membeli buku yang sama. Ingatkan anak bahwa buku tersebut sudah dimilikinya, dan minta ia mencari buku lain.

3. Menghargai buku.
Orangtua bisa mengajari anak untuk menghargai buku saat ke toko buku, seperti jangan memegang buku kalau sedang makan atau minum. Beritahukan alasannya kepada anak, misalnya buku jadi kotor kalau ia memegangnya sambil makan. Ajak anak mengembalikan buku ke tempat semula, tidak melipat buku, dan tidak membasahi buku. Dengan begitu anak belajar bagaimana cara memperlakukan buku dengan baik. (female.kompas.com)
komentar | | Read More...

Manfaat Berenang Untuk Bayi

Manfaat Berenang Untuk Bayi
Renang sebenarnya merupakan jenis olah raga yang dapat dikenalkan sejak bayi. Seorang bayi telah terbiasa berada di tengah cairan ketika berada dalam kandungan selama 9 bulan. Cairan ketuban tersebut mampu membuat bayi merasa hangat dan nyaman. Hal itulah yang membuat insting berenang bayi terbentuk.

Dengan demikian, tidaklah aneh jika bayi sangat senang berada dalam air. Misalnya, saat mandi. Bahkan, seorang bayi telah memiliki reflek menyelam pada usia 4 bulan. Reflek menyelam inilah yang mencegah tertelannya air ketika bayi berada dalam air. Oleh sebab itu, usia 4 bulan merupakan usia emas untuk mengajarkan renang pada bayi.

Akan tetapi, reflek menyelam bayi akan menghilang secara perlahan beriringan dengan berkembangnya fungsi otak secara baik. Mau tidak mau, bayi pun harus memulai pelajaran dari awal dengan cara menahan napas ketika berada dalam air.

Tahap Awal Pengenalan Renang

Sebagai tahap awal pengenalan renang, orangtua bisa mengajak bayi untuk bermain dalam bak mandi maupun kolam plastik. Ingat, perhatikan suhu air. Bayi akan senang bermain dengan air hangat, yaitu sekitar 33 derajat Celcius. Penggunaan air hangat tersebut akan mencegah bayi dari kedinginan.

Pengenalan sensasi dalam air dapat dihadirkan melalui bak mandi maupun kolam plastik yang telah disiapkan. Bayi pun akan menyesuaikan tubuhnya dalam air sebelum terjun ke kolam renang yang sesungguhnya. Akan tetapi, cara ini harus dilakukan secara bertahap. Misalnya, mengajak bayi bermain-main di pinggir kolam seraya menepuk-nepuk air.

Jika bayi terlihat ketakutan saat terkena cipratan air, jangan terus memaksanya untuk bermain air. Biarkan saja kesukaannya berlangsung secara bertahap. Misalnya, membuat suasana menyenangkan ketika bayi bermain air dengan cara menambahkan bola-bola plastik atau bebek plastik sebagai rekan berenangnya.

Jika bayi sudah menunjukkan keberanian terhadap air, gendonglah ia dan mulai masukkan ke dalam kolam sungguhan. Biarkan bayi berada dalam kolam selama beberapa saat. Pastikan pula bahwa ia berada pada posisi aman dan selalu dekat dengan Anda.

Setelah bayi mulai percaya diri berada dalam air, Anda dapat melatihnya seraya melakukan hal-hal menyenangkan. Misalnya, bernyanyi sambil menepuk air. Anda pun bisa membuat bayi seolah-olah menjadi pesawat di atas air dengan posisi tengkurap dan menyangganya dengan telapak tangan.

Manfaat Renang

Berikut adalah beberapa manfaat berenang bagi bayi.
  • Mengenalkan olah raga air.
  • Mengurangi ketakutan terhadap olah raga air saat dewasa.
  • Membantu pertumbuhan otot bayi.
  • Meningkatkan daya tubuh sehingga terhindar dari penyakit.
  • Mengasah keberanian dan kemandirian.
  • Membangun rasa percaya diri.
Berenang bersama mampu menumbuhkan kebersamaan serta memudahkan bayi untuk bersosialisasi serta beradaptasi dengan orang lain.

Utamakan Keselamatan Bayi

Hal yang tidak boleh dilupakan saat melatih renang pada bayi adalah penggunaan pengaman. Misalnya, penggunaan pelampung seperti neck ring sesuai ukuran leher dan kepalanya. Selain penggunaan pelampung, orangtua harus pintar membaca situasi kolam, cuaca, maupun kondisi tubuh bayi saat berenang.

Perhatikan kebersihan serta kejernihan air dalam kolam renang. Jangan mengajak bayi berenang saat tekanan angin tinggi karena bisa mengancam kesehatan dan keselamatannya. Jika sudah timbul keriput dan tangan bayi berwarna putih, segeralah menghentikan aktivitas renang dan mandikan bayi Anda dengan air hangat.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah pembelajaran renang harus sesuai dengan kemauan serta perkembangan fisik bayi. Orangtua memiliki peran penting untuk mendampingi bayi saat belajar renang. Bayi akan merasa lebih aman ketika berada di dekat orangtuanya.
komentar | | Read More...

RSSPump

Translate

Arsip Blog

Random Post

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger