News Update :
Tampilkan postingan dengan label bahaya rokok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahaya rokok. Tampilkan semua postingan

Cara Mengurangi Dampak Negatif Rokok

Penulis : teguh on Kamis, 13 Desember 2012 | 00.46

Kamis, 13 Desember 2012


Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pria, Wanita, Tua, Muda, Miskin, Kaya, tak luput jadi pecandu rokok. Dari segi kesehatan, tak ada bukti sedikitpun manfaat menghisap tembakau. Namun tak mudah untuk melepas ketergantungan dari kebiasaan buruk ini.

Meski sebagian orang menganggap merokok sebagai suatu kebiasaan yang wajar, tapi pada kenyataannya merokok bukan sekedar kebiasaan, sebab rokok mengandung zat-zat seperti nikotin dan karbon monoksida yang dapat membuat orang kecanduan dan ingin terus-menerus merokok.

Nikotin sebagai zat alkaloid memiliki banyak dampak negatif, diantaranya meningkatnya tekanan darah dan detak jantung.

Tips Mengurangi Dampak Rokok

Pada beberapa penelitian terakhir menemukan sebuah terapi 
herbal yang dapat mengurangi efek negatif nikotin, yaitu buah 
pisang. Dalam buah berkulit kuning ini terkandung zat-zat yang 

berguna bagi tubuh, diantaranya kalium, potasium, vitamin B6 
dan B12.


Kalium dimanfaatkan oleh saraf otonom untuk mengontrol 
frekuensi denyut jantung, fungsi otak, dan proses fisiologi 
penting lainnya. Potasium juga terbukti membantu menurunkan 
tekanan darah. Selain itu, zat ini juga berperan utama dalam fungsi deyut syaraf dan kontraksi 
otot. Selain keunggulan potasium, vitamin B6 dan B12 dalam pisang juga mempunyai peranan 
yang sangat besar karena mampu menetralisir efek negatif nikotin dalam tubuh.


Untuk mendapatkan manfaat dari pisang tersebut, kita tak boleh asal mengkonsumsinya. Pilihlah 
pisang sudah matang, karena lebih muda dicerna, sehingga gula buah pada pisang diubah 
menjadi glukosa alami secara cepat diabsorsi kedalam peredaran darah.


Konsumsilah beberapa buah pisang secara teratur untuk mengurangi dampak negatif nikotin

pada rokok. Semoga bermanfaat.

komentar | | Read More...

Inilah Pengaruh Rokok Bagi Kesehatan Gigi dan Mulut Anda

Penulis : teguh on Selasa, 11 Desember 2012 | 09.40

Selasa, 11 Desember 2012


Sampai saat ini saya masih tetap sehat-sehat saja, tidak ada keluhan”, itu mungkin “kata-kata pamungkas”
yang sering dikatakan oleh para perokok untuk menjawab pertanyaan seputar merokok dan dampak
negatifnya.

Menurut mereka “merokok itu bagaikan makan cabe”, jika tidak ada rokok, rasanya hambar. Jadi harus ada rokok setiap saat untuk diisap, apalagi setelah makan, rokok “wajib” dan “harus” ada. Rokok yang diisap oleh seseorang mutlak melalui mulut, berkontak dengan gigi dan jaringan lunak (mukosa) rongga mulut
sehingga dapat dipastikan rokok mempunyai pengaruh terhadap gigi dan mulut anda, karena bagian ini (gigi dan mulut) adalah yang pertama terkena paparan asap rokok. Lalu apa pengaruh rokok pada gigi dan mulut?

Merokok telah lama dikaitkan dengan resiko penyakit jantung, stroke, diabetes yang semakin buruk,
penyakit pernafasan, dan bayi dengan berat lahir yang rendah. Jika berbicara tentang kesehatan gigi maka merokok merupakan penyebab utama “tanggal”nya gigi/kehilangan gigi serta penyakit jaringan pendukung gigi (periodontitis). Resiko gigi tanggal akibat rokok juga bisa anda baca disini. “Tanggal”nya gigi adalah akhir riwayat perjalanan hidup dari sebuah gigi, suatu proses yang tidak pernah bisa sama sekali untuk dikembalikan.

Efek buruk rokok terhadap gigi dan mulut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Bau mulut
Ya,merokok dapat menyebabkan timbulnya bau mulut (istilah medisnya halitosis). Ini tidak dapat diatasi dengan menyikat gigi atau menggunakan obat kumur. Jika anda adalah seorang perokok maka siapapun yang ada di dekat wajah anda pasti tahu bahwa anda adalah seorang perokok.

2. Mengubah warna gigi (menimbulkan staining)
Staining adalah perubahan warna yang terjadi pada gigi. Jika anda sering merokok, maka bersiap-siaplah untuk menghadapi kenyataan bahwa warna gigi anda akan berubah. Gigiyang tadinya berwarna putih, maka akan menjadi lebih “kuning”. Jika anda merokok dalam waktu yang lebih lama lagi, mungkin selama beberapa tahun, maka warna gigi anda akan berubah menjadi “cokelat”. Tentu akan sangat mengganggu estetik atau penampilan anda.

3. Tartar lebih mudah berkembang
Tartar atau yang biasa disebut kalkulus adalah plak berisi bakteri yang telah mengalami pengapuran atau kalsifikasi dan kadang menempel pada permukaan gigi anda. Tartar jika tidak dihilangkan dapat
menyebabkan penyakit jaringan pendukung gigi (periodontitis). Tartar banyak ditemukan pada perokok.

4. Mempengaruhi perlekatan tulang dan jaringan lunak pada gigi
Jika dalam mulut seorang perokok terdapat gusi yang turun (receeding gums), maka aktivitas merokok akan memperparah keadaan tersebut yang akan menyebabkan gigi menjadi lebih sensitif terhadap rangsangan panas atau dingin karena terbukanya sebagian dentin.

5. Menunda proses penyembuhan
Merokok dapat menunda penyembuhan jaringan lunak rongga mulut anda karenarokok mengurangi pengiriman oksigen dan nutrisi ke jaringan gusi.

6. Menyebabkan penyakit periodontal (periodontitis)
Periodontitis adalahPenyakit radang kronis yang terjadi akibat aktivitas plak bakteri, yang diawali oleh
timbulnya radang pada gusi dan berlanjut hingga terbentuknya poket gigi, kehilangan perlekatan tulang dan berakhir pada “tanggal”nya gigi. Perokok mempunyai resiko yang besar untuk perkembangan penyakit periodontal menjadi lebih parah dibandingkan dengan bukan perokok. Ini dikaitkan dengan lemahnya mekanisme pertahanan tubuh para perokok sehingga lebih rawan terkena penyakit periodontal.

7. Resiko tinggi terhadap kanker rongga mulut
Ini adalah resiko yang paling menakutkan dari efek merokok pada gigi dan mulut. Dimana diketahui bahwa para perokok mempunyai resiko 6 kali lebih banyak menderita kanker rongga mulut. Ini dikaitkan dengan bahan kimia yang berjumlah sekitar 4.000 dalam sebatang rokok. Kanker rongga mulut yang biasa dialami oleh para perokok adalah kanker mulut, lidah, bibir, dan tenggorokan. Kebanyakan pasien dengan kanker rongga mulut meninggal dalam waktu 5 tahun, hal ini karena kanker rongga mulut ditemukan setelah dalam tahap lanjut dan telah berkembang.
komentar | | Read More...

Wanita Perokok Rentan Kanker Kulit

Penulis : teguh on Kamis, 06 Desember 2012 | 09.02

Kamis, 06 Desember 2012


Artikel Kesehatan - Seorang perokok memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan Sell Carcinoma Squamous (SCC), salah satu jenis masalah kesehatan kanker kulit non-melanoma. Bahkan, risikonya meningkat dua kali lipat pada wanita yang memiliki kebiasaan merokok sedikitnya 20 tahun.

Demikian hasil studi Pusat Kanker Moffitt di Tampa, Florida, yang dipublikasikan di Cancer Causes and Control Journal.

Dalam studi tersebut, tim peneliti melibatkan 698 partisipan, yang terdiri dari pasien dengan kanker kulit non-melanoma, dan yang tak memiliki gangguan kulit sama sekali.

Mereka meminta seluruh partisipan menjawab pertanyaan seputar riwayat merokok, mulai dari sudah berapa lama merokok, sehari berapa batang, dan apakah pernah merokok.

Hasil analisis menunjukkan, wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker kulit jenis SCC dibandingkan pria. Semakin intens frekuensi merokoknya, risikonya semakin meningkat. Risiko terbesar dialami wanita yang memiliki kebiasaan merokok setiap hari selama 20 tahun atau lebih.

SCC memiliki risiko besar menyebar dari satu organ ke organ lain, seperti ke wajah, telingan, dan bibir. Bahkan, jika tak segera mendapat perawatan dapat menghancurkan hidung dan telinga.

Dr Dana Rollison, penulis utama studi, mengatakan, tidak jelas mengapa wanita perokok memiliki risiko kanker kulit lebih besar. Namun hasil studi menunjukkan, wanita memiliki kandungan senyawa penyebab kanker, dan rendahnya tingkat enzim perbaikan DNA dibandingkan laki-laki.

"Studi lebih lanjut diperlukan untuk menjelaskan lebih jauh tentang perbedaan efek merokok berdasarkan jenis kelamin," ujarnya.

Menopause
Wanita perokok berisiko mengalami menopause dini, setidaknya setahun lebih cepat dibandingkan wanita bukan perokok. Wanita perokok umumnya menopause di rentang usia 43-50 tahun. Sedangkan wanita bukan perokok cenderung menopause di rentang usia 46-51 tahun.

Kesimpulan didapat dari analisis sejumlah studi terdahulu yang melibatkan puluhan ribu wanita termasuk hasil survei terhadap 6.000 wanita di Amerika Serikat, Polandia, dan Turki.

Hasil studi yang dipublikasikan di Jurnal Menopause itu tak berhenti pada ancaman menopause dini. Sebab, menopause dini berkaitan dengan risiko tinggi mengembangkan gangguan kesehatan seperti osteoporosis dan masalah jantung.

Jennie Kline dari Mailman School of Public Health Universitas Kolombia, New York, mengatakan bahwa merokok kemungkinan besar memengaruhi tubuh wanita dalam mengontrol produksi estrogen. Rokok juga mengandung racun yang dapat merusak sel telur di dalam ovarium. "Ini mungkin yang memengaruhi menopause," ujarnya.
-kosmo.vivanews.com-
komentar | | Read More...

RSSPump

Translate

Arsip Blog

Random Post

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger